Ruang Media


Kantor

Alamat Surat :
Perumahan Taman Laguna, Ruko No. 112
Jl. Alternatif Cibubur
Bekasi 17435
          (+62 21) 8459 0227
          (+62 21) 8459 0227
          sekretariat.pusat@gpmt.or.id

19 December 2016

Bersama Industri Pakan Jaga Kelestarian Cirata

Asosiasi Perusahaan Pakan Ternak(GPMT) divisi Akuakultur kembali gelarkegiatan bersih-bersih Waduk Ciratademi menjaga keberlangsunganlingkungan dan usaha budidaya perikanan

 

Sudah menjadi komitmen jangka panjang bagi Asosiasi Perusahaan Pakan Ternak (GPMT) divisi Akuakultur, untuk selalu berupaya menjaga lingkungan budidaya ikan di Waduk Cirata Jawa Barat. Komitmen ini salah satunya ditunjukkan denganmenggelar acara bersih Cirata setiap tahun. Untuk tahun inipencanangan kegiatan ini diadakan pada (5 - 6/6) di Desa Gandasoli Cirata Jawa Barat. 

Beberapa pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut diantaranya Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat, Dinas Perikanan Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta, Masyarakat Peduli Cirata (MPC), serta Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC). “Acara bersih-bersihsemacam ini dengan melibatkan semua pihak terkait sudah menjadi kegiatan rutin kami dan akan terus dilakukan,” kata Ketua Divisi Pakan Ternak GPMT, Anang Hermanta.

Bukan hanya masalah limbah dan sampah, belakangan masalah eceng gondok yang tumbuh dengan sangat cepat menjadi hal yang harus diwaspadai. Direktur Kesehatan Ikan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Maskur mengatakan, keberadaan eceng gondok yang pertumbuhannya lebih cepat daripada kegiatan pembersihannya sudah menutupi 50 – 60 % luas Waduk Cirata. Yang membahayakan, lanjut Maskur adalah kemungkinan pertumbuhan eceng gondok mencapai turbin penggerak Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sehingga dapat mengganggu suplai listrik di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

Belum lagi dari sisi budidaya, lanjutnya, keberadaan eceng gondok juga dapat mengganggu suplai oksigen yang dibutuhkan ikan-ikan yang sedang dibudidaya. “Kita sudah kembangkan sejumlah solusi pemanfaatan eceng gondok sehingga tidak hanya jadi gulma,” ungkap Maskur. Ia menambahkan, Cirata sebagai aset nasional harus dijaga oleh semua pihak. “Salahsatunya dengan kegiatan bersih-bersih ini yang melibatkan GPMT, Formikan, MPC, Dinas, Balai, semua harus bergerak. Pada kesempatan ini kami dari Ditjen Perikanan Budidaya KKP ikut andil dengan melakukan restocking ikan grass carp, bandeng, nilem, dan lain-lain untuk membantu mengendalikan plankton dan gulma air,” tegas Maskur.

 

Kontribusi Nyata

Sejak 5 tahun lalu, kegiatan Bersih-bersih Cirata yang dilaksanakan oleh GPMT rutin dilakukan minimal 2 kali dalam setahun. Tidak sebatas Cirata, Waduk Jatiluhur juga menjadi perhatian GPMT untuk dilakukan kegiatan bersih-bersih. Bahkan tidak menutup kemungkinan sampai ke Danau Maninjau maupun Danau Toba. Beberapa pabrik pakan yang aktif terlibat diantaranya Central Proteina Prima, Sinta Prima Feedmill, Cargill, Suri Tani Pemuka, Feedmill Indonesia, Wono-koyo, Luxindo/Global, Invivo/Guyofeed, dan Matahari Sakti.

Melihat daya dukung waduk Cirata untuk budidaya semakin menurun, menurut Anang idealnya memang harus dilakukan pembersihan setiap hari. “Oleh karenanya kita tidak bisa sendirian, harus ada kesadaran juga dari para pembudidaya karena ini untuk menjaga keberlangsungan usaha budidaya mereka juga,” tegas Anang.

Ditambahkan Ketua Bidang Sub Divisi Pakan Ikan GPMT, Edi Prijono peran serta GPMT tidak hanya sebatas kegiatan bersih-bersih, tetapi GPMT juga selalu berusaha menyediakan pakan yang berkualitas sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah (SNI). Termasuk menjembatani berbagai info atau kebijakan dari pemerintah untuk disampaikan ke pembudidaya.

“Untuk yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari kami dengan tim TS/Sales yang tersebar di berbagai daerah sering bertugas layaknya penyuluh perikanan yang memberikan saran, rekomendasi untuk keberhasilan budidaya, bagaimana menerapkan CBIB untuk keberhasilan bisnis. Termasuk sampai di hal-hal terkait managemen keuangan pembudidaya kami sering terlibat,” urai Edi.

Edi berharap kegiatan bersih-bersih Cirata akan menjadi contoh atau model bagi para pelaku atau pembudidaya ikan di Cirata untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan waduk Cirata. Sehingga akan menjaga keberlangsungan usaha budidaya di wilayah tersebut yang melibatkan banyak pihak.

Sedangkan kepada pemerintah, tambah Edi, kegiatan semacam penyuluhan, seminar-seminar yang berhubungan dengan budidaya terapan/lapangan (bukan dalam skala penelitian), sangat dibutuhkan. “Kami berharap KKP selalu mendukung GPMT dalam aksi bersih ini karena secara langsung maupun tidak akan mendukung program mereka dalam meningkatkan produksi perikanan budidaya,” harapnya. 

Asep Sulaiman yang merupakan ketua MPC Kabupaten Bandung Barat merasakan kerjasama yang dilakukan bersama antara MPC dan GPMT sudah berjalan dengan baik. “Sekarang kita fokus dan konsen untuk melestarikan Cirata bersama dan membersihkan Cirata. Kalau secara nonformal mungkin kontribusinya ke penyuluhan pada pembudidaya seperti sharing dan sebagainya saya rasa sudah bagus,” terang Asep.

 

Pemanfaatan Eceng Gondok

Terkait pemanfaatan eceng gondok agar lebih bernilai guna, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi Saripin menjelaskan bahwa pihaknya telah mengembangkan teknologi untuk mengubah eceng gondok menjadi salah satu bahan pakan alternatif pengganti dedak yang harganya cukup tinggi di pasaran. Penelitian yang dimulai sejak Januari 2015 di BPBAT Sukabumi sudah bisa menghasilkan 1-2 kuintal per hari.

“Oleh karena itu kami ingin menerapkannya di sini, tentunya dengan pendampingan dari balai kepada masyarakat pembudidaya di Cirata,” jelas Saripin. Teknologi yang dibutuhkan menurut Saripin cukup sederhana, dimulai dari eceng gondok dicacah, lalu dikeringkan, setelah kering dilakukan penepungan, lalu diformulasi ke pelet.

Sambutan positif disampaikan Anang yang menganggap teknologi ini sangat menarik khususnya bagi pabrik pakan.“Tentunya kami dari GPMT akan dukung ke depannya, jika proteinnya minimal 12 % paling tidak bisa mensubstitusi dedak. Dan harganya bisa di bawah Rp 3.000,” harapnya. Dukungan lebih lanjut dari GPMT direalisasikan dengan pemberian bantuan senilai Rp 7 juta rupiah yang akan dipergunakan untuk pembelian mesin penepungan. “Kami harap akan bermanfaat bagi masyarakat pembudidaya di Cirata ini dan kepada dinas, maupun balai agar terus menerus melakukan pendampingan,” tegas Anang.